OpiniPendidikan

Matinya Etos Akademik di Era Kecerdasan Buatan

Mampukah perguruan tinggi konsisten melahirkan generasi intelektual, atau justru generasi yang semakin bergantung pada mesin?

Penulis : Y. Didit Setiawan, M.Pd (Dosen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Borneobaru.id – “Buatkan saya sebuah esai dengan judul tantangan Manusia dalam konteks Masyarakat digital. Esai ini minimal 300 kata.” Prompt ini yang ditemukan ketika mencoba menelisik bagaimana seorang mahasiswa mampu menyajikan sebuah esai dengan pilihan kata yang tepat dan rapi, berikut juga dengan tingkat koherensi dan kohesi yang baik. Sayangnya, ketika dielaborasi mahasiswa tersebut tidak mampu menjelaskan dan memberikan argumentasi. Dari kasus ini, terlihat proses pengalihan fungsi otak manusia kepada sebuah mesin. Proses yang instan jauh lebih menarik daripada harus membaca dan mencerna informasi dari berbagai sumber, mengolah dalam pikiran, lalu menuliskannya. Tidak ada etos akademik yang terlihat dari proses di atas.

Etos akademik terdiri dari dua kata, yaitu etos atau dalam Bahasa Yunani ethos seperti yang dipopulerkan oleh Aristoteles yang berarti karakter moral yang terbentuk melalui kebiasaan, dan akademik yang berkaitan dengan dunia pendidikan dan pengajaran. Shils (1978) dalam tulisannya yang berjudul The Academic Ethos menjelaskan bahwa etos akademik bisa diterjemahkan sebagai komitmen untuk menemukan kebenaran melalui prosedur yang metodis dan kajian sistematis, dengan berpedoman pada kaidah pembuktian dan prinsip penalaran yang logis. Dengan demikian, hasil pemikiran dan Penelitian yang dibagikan memerlukan keterlibatan diri seorang penulis secara utuh tanpa menuankan sebuah insrtumen atau sarana, berikut juga menjunjung proses yang perlu dilalui.

Di tengah kemajuan zaman ini, khususnya di mana teknologi masuk ke hampir semua lini kehidupan manusia, diperlukan keteguhan hati dan moral menghadapi semua tantangan dan godaan yang datang. Dalam konteks dunia akademik di perguruan tinggi, objektif dan luaran yang menjadi tujuan pembelajaran sangat mudah dipenuhi melalui kehadiran kecerdasan buatan. Setiap insan perguruan tinggi saat ini sangat mudah mencari jawaban ketika mendapat pertanyaan, mencari ide atau gagasan terkait dengan respon terhadap sebuah kasus, bahkan membuat analisis. Kecerdasan buatan yang seharusnya menjadi instrumen atau alat bantu justru menjadi “pengganti otak manusia”. Situasi tersebut berpotensi menjadi ancaman bagi mahasiswa jika tidak disadari. Mahasiswa atau dosen, sebagai manusia akademik, akan kehilangan daya berpikir jika proses berpikir yang seharusnya terjadi diserahkan kepada mesin kecerdasan buatan. Di mana letak esensi manusia pembelajar jika proses belajar tidak terjadi, tidak ada kesalahan yang dialami, bahkan tidak ada proses kontemplasi atas apa yang didapat melalui panca indra.

Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam ranah akademik tentu memiliki hal positif. Sebagai contoh, teknologi seperti chatgpt atau gemini bisa menjadi partner diskusi. Keduanya bisa dijadikan sarana untuk melatih nalar kita mengelaborasi informasi dan pengetahuan. Meski demikian, kecerdasan buatan seperti chatgpt maupun gemini juga memiliki kekurangan. Supriyono, dkk. (2024) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa tantangan yang paling banyak ditemukan adalah keakuratan informasi, dan etika akademik dan plagiarisme. Ketika kecerdasan buatan seperti chatgpt digunakan secara penuh, dengan hasil yang langsung diterima mentah-mentah, patut dipertanyakanlah keakuratan informasi yang disampaikan. Dan pada momen ini, yang terjadi bukanlah proses belajar dan proses berpikir, melainkan proses menyalin.

Apa yang terjadi saat ini mulai menimbulkan kekhawatiran. Jika situasi ini terus berlangsung, masa depan generasi penerus bangsa bisa kehilangan independensi terhadap dirinya. Konsep manusia Merdeka mulai terhimpit akibat jebakan teknologi yang menawarkan kemudahan dan kecepatan. Pendidikan mulai terlepas dari pengalaman atas proses yang dijalani. Jebakan teknologi dalam dunia pendidikan berpotensi menyebabkan kesulitan berpikir mandiri, lemah dalam membangun argumentasi, dan kemungkinan kehilangan kreativitas. Jebakan teknologi ini, secara khusus kecerdasan buatan, bisa menyebabkan kemiskinan pengetahuan atau intelektual jika tidak disertai kehadiran manusia (sebagai pemikir).

Perguruan tinggi sebagai wadah belajar dan tumbuhnya mahasiswa perlu melihat situasi ini dengan serius. Di tengah tuntutan akreditasi yang bersifat administratif, kebijakan pemerintah yang akhir-akhir ini menjadikan dosen mahir administarasi daripada meneliti, mengabdi, dan mendidik, perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi ruang tumbuh yang tepat untuk generasi muda di tengah jebakan teknologi. Hal ini tidak berarti perguruan tinggi harus antipati dengan teknologi, tapi perlu mencari pola dan kebijakan yang tepat, rigid, jelas, dan aplikatif dalam dunia pendidikan. Bagaimana kecerdasan buatan harus digunakan, seberapa jauh keterlibatannya dalam konteks akademik, dan batasan yang jelas tentang konsekuensi yang perlu dihadapi.

Merujuk pada semangat Ki Hajar Dewantara, dunia pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang “Merdeka”, manusia yang mampu hidup mandiri tanpa bergantung pada orang lain, bukan manusia yang menjadi budak industri dan budak teknologi. Kecerdasan buatan nyatanya bukanlah mesin yang mampu menggantikan kehadiran manusia. Pergulatan intelektual yang akan membentuk manusia perlu dihadirkan kembali. Perguruan tinggi harus mampu mengembalikan habitus ini, yaitu pergulatan intelektual yang didasari oleh etos akademik. Proses berpikir harus terus ada supaya etos akademik bisa dilestarikan. Dengan demikian, makna pendidikan bisa dirasakan dengan sungguh.

Bagikan ke sosial media