OpiniPendidikan

Kurangnya Minat Membaca di Era Digital, Ancaman Nyata bagi Kualitas Generasi Masa Depan

Oleh: Tedi Suryadi, M.Pd
(Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persada Khatulistiwa, Sintang, Kalimantan Barat.)

BorneoBaru.id – Teknologi informasi mengalami perkembangan yang sangat pesat, sehingga memudahkan masyarakat memperoleh  kemudahan dalam mengakses berbagai sumber pengetahuan. Melalui gawai yang disebut telepon pinta, jutaan informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut ternyata tidak selalu diikuti dengan meningkatnya budaya membaca. Sebaliknya, era digital justru menghadirkan tantangan baru berupa menurunnya minat membaca secara mendalam, terutama di kalangan generasi muda.

Tanpa budaya membaca yang kuat, masyarakat akan lebih mudah menerima informasi secara dangkal, bahkan rentan terhadap penyebaran hoaks dan disinformasi. Fenomena ini menjadi perhatian banyak peneliti karena kemampuan membaca merupakan fondasi utama dalam membangun literasi, berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Butar Butar, dkk. (2026), menyatakan bahwa rendahnya minat membaca pada era digital dipengaruhi oleh tingginya intensitas penggunaan media sosial, dominasi konten hiburan digital, kurangnya dukungan keluarga, rendahnya motivasi intrinsik, serta belum optimalnya program literasi di sekolah. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kemudahan memperoleh informasi secara instan membuat peserta didik cenderung menghindari kegiatan membaca secara mendalam atau deep reading.

Kondisi tersebut diperkuat oleh penelitian Febrianti, dkk. (2026), yang menemukan bahwa mahasiswa lebih sering mengonsumsi informasi singkat melalui media sosial daripada membaca buku atau artikel ilmiah. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan analisis mendalam mengalami penurunan karena kebiasaan membaca yang semakin berkurang.

Kebiasaan menggulir layar selama berjam jam perlahan menggantikan aktivitas membaca buku yang membutuhkan konsentrasi lebih tinggi. Ironisnya, masyarakat sebenarnya tidak kekurangan informasi. Yang terjadi justru adalah banjir informasi. Setiap hari seseorang dapat melihat ratusan bahkan ribuan konten digital. Akan tetapi, sebagian besar informasi tersebut dikonsumsi secara cepat tanpa proses memahami, membandingkan, maupun mengevaluasi isinya.

Oleh karena itu, membaca buku, terutama buku ilmiah dan nonfiksi, memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan hanya mengonsumsi potongan informasi dari media sosial. Dari sudut pandang psikologi kognitif, membaca bukan sekadar mengenali huruf, melainkan proses kompleks yang melibatkan perhatian, pemahaman, penalaran, serta kemampuan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

Penyebab rendahnya minat membaca juga berasal dari lingkungan keluarga. Anak yang tumbuh di rumah dengan budaya membaca cenderung memiliki kebiasaan literasi yang lebih baik dibandingkan anak yang jarang melihat orang tua membaca. Sekolah pun memiliki peran penting melalui penyediaan bahan bacaan yang menarik, kegiatan literasi, serta pembelajaran yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik.

Di sisi lain, teknologi sebenarnya bukanlah musuh budaya membaca. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa apabila dimanfaatkan secara tepat, teknologi justru mampu meningkatkan literasi. Penelitian mengenai pemanfaatan perpustakaan digital menemukan bahwa akses terhadap perpustakaan digital memberikan pengaruh positif terhadap minat baca dan kemampuan literasi karena masyarakat memperoleh bahan bacaan yang lebih mudah, fleksibel, dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Artinya, persoalan utama bukan terletak pada keberadaan teknologi, melainkan pada cara masyarakat menggunakannya. Jika gawai lebih banyak dimanfaatkan untuk hiburan tanpa keseimbangan dengan aktivitas membaca, maka kemampuan literasi akan terus menurun. Sebaliknya, apabila teknologi digunakan untuk mengakses buku digital, jurnal ilmiah, maupun sumber pengetahuan yang berkualitas, maka era digital justru menjadi peluang besar untuk membangun masyarakat pembelajar.

Meningkatkan minat membaca tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Keluarga, pemerintah, perpustakaan, media massa, komunitas literasi, serta masyarakat perlu bekerja sama membangun budaya membaca sejak usia dini. Program membaca lima belas menit sebelum belajar, penyediaan perpustakaan digital yang mudah diakses, kampanye literasi di media sosial, hingga keteladanan orang tua dalam membaca merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar.

Kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologinya, tetapi juga dari kualitas literasi masyarakatnya. Era digital seharusnya menjadi sarana untuk memperluas wawasan, bukan sekadar ruang konsumsi hiburan. Semakin tinggi budaya membaca, semakin besar pula peluang lahirnya generasi yang kritis, kreatif, inovatif, dan mampu bersaing pada tingkat global.

Bagikan ke sosial media