Koperasi: Dari Model Ekonomi menjadi Sebuah Gerakan

(Researcher di Pusat Kajian Masyarakat Adat, Perubahan Iklim, dan SDGs (PusakaMas), Dosen Institut Teknologi Keling Kumang, Kalimantan Barat.)
Borneobaru.id – Pernah mendengar nama Gujarat Cooperative Milk Marketing Federation, Corporación Mondragón, atau Nonghyup? Saya yakin, Anda pasti tidak pernah mendengar nama-nama itu. Dan, Anda akan mengeryitkan dahi kalau tahu bahwa mereka adalah sebuah koperasi. Ya, itulah faktanya. Dan yang makin mencengangkan adalah omsetnya mencapai triliunan dolar setahun.
- Koperasi Dunia Hari Ini
International Cooperative Alliance (ICA) berdiri di London, Inggris pada tanggal 19 Agustus 1895 pada Kongres Koperasi Dunia Pertama. Delegasinya berasal dari Argentina, Australia, Belgia, Inggris, Denmark, Prancis, Jerman, Belanda, India, Italia, Swiss, Serbia, dan Amerika Serikat. Tujuan awalnya adalah untuk memberikan informasi, mendefinisikan dan mempertahankan prinsip-prinsip kerja sama serta mengembangkan perdagangan internasional.
Hari ini, ICA merupakan wadah bagi 313 organisasi koperasi di 110 negara. Dengan 4 kantor regional: Eropa (di Brusel, Belgia), Afrika (di Nairobi, Kenya), Amerika (di San José, Kosta Rika), dan Asia-Pasifik (di New Delhi, India), ICA menjadi rumah bagi 8 organisasi sektoral di bidang pertanian, perbankan, ritel, perikanan, kesehatan, perumahan, asuransi, dan industri & jasa. Dalam waktu 125 tahun terakhir, bentuk dan jenis koperasi terus berkembang seiring kebutuhan sosio-ekonomi masyarakat.
Seiring waktu, ICA mengemban sebuah misi mulia, yakni memperkenalkan koperasi sebagai sebuah solusi untuk memberdayakan masyarakat (kecil dan terpinggirkan), baik secara ekonomi, maupun sosial dan budaya. ICA menyatukan, mewakili dan menyuarakan koperasi ke panggung internasional.
Sebagai sebuah forum, ICA mendorong kerja sama antar koperasi di seluruh belahan dunia antara lain (1) mengembangkan hubungan bisnis dan kemitraan di antara para anggotanya, (2) mengorganisir beragam acara regional dan internasional di mana organisasi-organisasi bertemu secara teratur untuk berbagi ide, (3) menyediakan instrumen dukungan dan menyebarluaskan pengetahuan, dan (4) memfasilitasi program pelatihan, acara, dan publikasi yang dikembangkan dalam kemitraan dengan lembaga pengembangan koperasi.
- Nilai yang Bertranformasi
Di masa-masa awal, koperasi hanya dianggap sebagai sebuah model ekonomi alternatif. Koperasi menjadi wadah masyarakat miskin kota dan desa untuk saling menolong supaya bisa sejahtera. Iya, sejahtera, bukan kaya. Rich society, not rich people. Sejahtera merupakan tujuan akhir dari berkoperasi. Untuk bisa sejahtera, para anggota koperasi harus bekerja sama. Dan untuk bisa bekerja sama dengan baik, para anggota koperasi harus memiliki nilai dan prinsip yang diimani dan diamini bersama.
Nilai-nilai awal koperasi sangat sederhana: kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial, dan peduli kepada sesama. Jika kita cermati, nilai-nilai awal ini lekat dengan masyarakat agraris (rural) dan masyarakat pinggiran kota (suburban). Tentu saja, nilai-nilai awal koperasi yang tumbuh di masa Revolusi Industri 1.0 (mesin uap) dan 2.0 (tenaga listrik) merupakan sebuah respon atas nilai-nilai sistem kapitalisme yang sedang mekar, yakni kepemilikan pribadi (private property), kepentingan pribadi & motivasi keuntungan, dan akumulasi modal (money-commodity-money).
Revolusi Industri 3.0 (teknologi otomatisasi) dan 4.0 (teknologi pintar) mendorong ICA untuk berubah dan berbenah. Dengan mengadopsi The Statement on the Cooperative Identity, ICA mempromosikan nilai-nilai koperasi yang lebih relevan di masa sekarang: swadaya, tanggung jawab diri, demokrasi, kesetaraan, keadilan, dan solidaritas.
- Gerakan untuk Membangun Dunia yang Lebih Baik
International Cooperative Alliance (ICA) dan European Research Institute on Cooperative and Social Enterprises (EURICSE) menginisasi lahirnya World Cooperative Monitor, sebuah laporan tahunan komprehensif yang berisi data ekonomi, sosial, dan organisasi tentang koperasi di seluruh dunia. Tujuannya, menganalisa seberapa besar dampak koperasi bagi anggotanya secara ekonomi, sosial, dan organisasi.
Pada tahun 2023, World Cooperative Monitor merilis Top 300 koperasi berdasarkan omzet dengan total keseluruhan sebesar USD 2.788,66 triliun. Sebagian besar koperasi ini bergerak di sektor pertanian (107 koperasi), asuransi (95 koperasi), dan perdagangan grosir dan ritel (54 koperasi). Top 300 koperasi berdasarkan omzet terhadap PDB per kapita menunjukkan sektor pertanian menonjol dengan 106 koperasi, sektor asuransi memiliki 86 koperasi, dan sektor perdagangan grosir dan ritel memiliki 60 koperasi.
Dari sisi geografi, Top 300 koperasi beroperasi di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat (79 koperasi), Perancis (41 koperasi), Jerman (19 koperasi, Belanda (16 koperasi), Italia (10 koperasi), dan Jepang (18 koperasi). Koperasi telah bermetamorfosis, dari sebuah model ekonomi alternatif-lokal menjadi sebuah organisasi bisnis berskala besar-kompleks-global (enterprise). Kontribusi koperasi pada ekonomi global sangat terukur dan berarti.
Laporan World Cooperative Monitor melansir bahwa koperasi-koperasi tersebut berdampak secara signifikan kepada kepada para anggota dan masyarakat/komunitasnya. Caranya? (1) Mengutamakan manusia (people before profit) dengan menginvestasikan kembali keuntungan usaha pada anggota, infrastruktur, dan komunitas sehingga berdampak jangka panjang dan lokal. (2) Tata kelola demokratis (democratic governance) yang diejawantahkan dalam one member, one vote pada Rapat Anggota Tahunan sehingga menciptakan produk dan layanan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan nyata anggota dan komunitas. Dan, (3) ketangguhan dan solidaritas (resilience and solidarity) koperasi telah teruji di masa pandemi, bencana alam, dan krisis keuangan di mana mereka mampu merespon secara cepat dan tepat kebutuhan anggota dan komunitas (leave no one behind).
Koperasi telah menjelma menjadi sebuah gerakan (movement) yang dibangun dengan penuh kesadaran (awareness) dan berkelanjutan (sustainable). Tantangan globalnya adalah bagaimana koperasi lintas negara bisa saling bekerja sama – memperkuat inovasi, berbagi teknologi, dan mempengaruhi kebijakan – sehingga mampu menciptakan peradaban manusia yang lebih adil, bermartabat, dan tangguh. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?


