OpiniTerbaru

Sering Mengeluh Bisa Melemahkan Imun dan Kinerja Otak

BORNEOBARU.ID – Terlalu sering mengeluh sering dianggap sebagai kebiasaan biasa dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, sejumlah penelitian psikologi dan neurosains menunjukkan bahwa kebiasaan mengeluh dapat memengaruhi kesehatan tubuh dan fungsi otak manusia.

Mengeluh secara terus-menerus berkaitan dengan meningkatnya stres yang berdampak pada sistem imun serta kinerja otak. Ketika seseorang berulang kali memusatkan perhatian pada hal negatif, tubuh akan meresponsnya seperti menghadapi ancaman.

Baca Juga: Indonesia Peringkat 2 Negara Paling Rentan Penipuan Digital

Respons tersebut memicu perubahan kimia di dalam tubuh yang jika berlangsung lama dapat merugikan kesehatan. Karena itu, kebiasaan mengeluh berlebihan tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga kondisi biologis tubuh.

Salah satu dampak utama dari kebiasaan ini adalah meningkatnya produksi hormon stres yang disebut kortisol. Hormon ini dilepaskan ketika tubuh merasakan tekanan atau emosi negatif.

Kortisol sebenarnya bermanfaat dalam situasi darurat karena membantu tubuh bersiap menghadapi ancaman. Namun jika kadar kortisol terus meningkat akibat stres yang berulang, efeknya justru merugikan.

Kadar kortisol yang tinggi dapat mengganggu berbagai sistem tubuh dan membuat tubuh berada dalam kondisi stres kronis. Penelitian menunjukkan bahwa setelah seseorang mengeluh atau mengalami interaksi negatif, kadar kortisol dapat tetap meningkat selama beberapa waktu.

Kondisi stres yang berkepanjangan juga berpengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh. Kortisol yang tinggi dapat menekan aktivitas sel imun yang berfungsi melawan virus, bakteri, dan penyakit.

Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan proses penyembuhan luka menjadi lebih lambat. Penelitian terbaru juga menemukan bahwa individu yang memiliki emosi negatif berkepanjangan menunjukkan respons imun yang lebih lemah terhadap vaksin dan penyakit.

Hal ini menunjukkan bahwa kondisi mental dapat memengaruhi kesehatan fisik secara nyata.

Selain memengaruhi sistem imun, kebiasaan mengeluh juga berdampak pada struktur dan fungsi otak. Aktivitas mengeluh berulang dapat memperkuat jalur saraf yang berkaitan dengan pikiran negatif.

Fenomena ini berkaitan dengan neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak membentuk pola koneksi baru berdasarkan kebiasaan berpikir.

Jika seseorang terus mengeluh, otak akan semakin terbiasa dengan pola berpikir negatif. Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah melihat masalah dibandingkan solusi.

Baca Juga: Rajin Mandi! Indonesia Duduki Posisi Kelima Dunia

Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa stres kronis dapat memengaruhi bagian otak yang penting bagi kemampuan berpikir. Bagian tersebut adalah hipokampus, area otak yang berperan dalam memori dan pemecahan masalah.

Paparan kortisol yang tinggi dalam jangka panjang dapat menyebabkan penyusutan pada area ini. Jika fungsi hipokampus terganggu, kemampuan berpikir jernih, mengingat informasi, dan mengambil keputusan dapat menurun.

Inilah alasan mengapa stres dan pikiran negatif berkepanjangan sering dikaitkan dengan penurunan kinerja kognitif.

Walaupun demikian, bukan berarti seseorang tidak boleh mengungkapkan keluhan sama sekali. Mengeluh sesekali dapat menjadi cara mengekspresikan emosi atau mencari solusi atas masalah.

Hal yang perlu dihindari adalah kebiasaan mengeluh secara terus menerus tanpa mencari jalan keluar. Kita hanya perlu melatih pola pikir yang lebih konstruktif, seperti fokus pada solusi, rasa syukur, dan pengelolaan stres yang sehat.

Dengan mengubah kebiasaan berpikir, seseorang dapat menjaga kesehatan mental, memperkuat sistem imun, serta membantu otak bekerja lebih optimal.

Bagikan ke sosial media