OpiniTerbaru

Saat Lapar, Tubuh Membersihkan Sel Rusak Secara Alami

BORNEOBARU.ID – Ketika seseorang merasa lapar atau tidak makan dalam periode tertentu, tubuh tidak hanya menunggu makanan masuk. Dalam kondisi lapar, tubuh justru mengaktifkan mekanisme biologis penting untuk menjaga keseimbangan internal.

Salah satu proses tersebut disebut autophagy, yaitu sistem alami sel untuk membersihkan dan mendaur ulang bagian yang rusak. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti memakan diri sendiri. Istilah ini menggambarkan kemampuan sel menghancurkan komponen yang tidak lagi berfungsi agar tetap sehat.

Baca Juga: BNN Usulkan Aturan Lebih Ketat untuk Vape

Saat asupan makanan berhenti, kadar insulin dan nutrisi di dalam tubuh mulai menurun. Perubahan ini memberi sinyal bahwa energi sedang terbatas. Tubuh kemudian beralih dari mode pertumbuhan menuju mode perawatan dan bertahan hidup.

Pada fase ini, autophagy meningkat secara bertahap. Sel menggunakan kembali protein rusak dan limbah seluler sebagai sumber energi alternatif. Beberapa penelitian menunjukkan proses ini mulai meningkat setelah sekitar 12–16 jam tanpa makan, meskipun respons tiap individu dapat berbeda.

Melalui autophagy, tubuh mampu menghilangkan sel yang menua atau tidak lagi optimal. Tubuh juga membersihkan protein yang salah bentuk serta komponen sel yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Para ilmuwan menemukan bahwa mekanisme ini dapat membantu mencegah perkembangan penyakit tertentu. Termasuk di dalamnya risiko pembentukan sel pra kanker pada tahap awal. Selain itu, autophagy membantu menjaga metabolisme tetap stabil dan mendukung fungsi sistem imun.

Penelitian terbaru menunjukkan autophagy memiliki hubungan dengan proses penuaan yang lebih sehat. Aktivitas pembersihan sel ini biasanya menurun seiring bertambahnya usia.

Akibatnya, limbah seluler dapat menumpuk dan mengganggu fungsi jaringan tubuh. Pembatasan kalori atau periode tidak makan diketahui dapat mengaktifkan kembali proses tersebut.

Baca Juga: Sering Konsumsi Daging Olahan? Ini Fakta Ilmiah Risiko Kanker

Namun para peneliti menekankan bahwa manfaatnya masih terus dipelajari melalui penelitian jangka panjang pada manusia.

Dalam praktik puasa Ramadan, kondisi biologis ini menarik. Selama berpuasa, umat Muslim menahan makan dan minum sejak fajar hingga matahari terbenam.

Periode tanpa asupan tersebut menciptakan kondisi metabolik yang mirip dengan pemicu autophagy. Sejumlah penelitian modern menunjukkan bahwa puasa religius dapat membantu regulasi gula darah, meningkatkan sensitivitas insulin. Selain itu, puasa memberi waktu bagi tubuh melakukan proses pemeliharaan seluler.

Meski demikian, tujuan utama puasa dalam Islam tetap bersifat spiritual, yaitu meningkatkan ketakwaan dan pengendalian diri.

Dengan demikian, rasa lapar yang terjadi saat puasa tidak selalu berarti tubuh melemah. Dalam batas yang sehat, tubuh justru menjalankan sistem pembersihan alami yang membantu memperbaiki sel dan menjaga keseimbangan biologis.

Bagikan ke sosial media