OpiniTerbaru

Membedah Hastrat Di Balik Banjir

BORNEOBARU.ID – Dukacita mendalam untuk para korban banjir bandang di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Hatur nuwun untuk belasungkawa, empati, dan bantuan nyata yang tengah mengalir ke sana. Bencana banjir ini sungguh mengetuk gerbang nurani kita bersama. Berbagai aksi kemanusiaan berjibaku di lapangan, sementara di ruang digital, opini dan asumsi public berduel sengit.

Premisnya itu-itu saja: bencana ini mekanisme alam atau ulah manusia?

Baca Juga: ESDM Berlakukan Denda Tinggi Tambang di Kawasan Hutan

Kali ini perwakilan “manusia” sepakat ditapis. Orang tempatan dan perambah kecil tidak masuk hitungan. Telunjuk netizen ramai-ramai mengarah pada korporasi dan oknum pejabat. Yang dituding ramai-ramai cari selamat. Alasannya bikin geli sekaligus miris: seperti orang yang waktu sekolah berhenti di depan pagar saja.

Deleuze-Guattari dalam Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia menelusuri bahwa kemalangan yang menimpa manusia modern berakar pada hasrat yang dikendalikan dan dimanipulasi. Sejatinya, hasrat adalah daya hidup yang produktif, kreatif, dan mengalir untuk menopang kepentingan bersama.

Namun oleh kapitalisme modern, hasrat dipecah, diarahkan, dan dijinakkan menjadi dorongan meraih untung tanpa batas melalui mesin ekonomi-politik yang bekerja rapi, tak kasatmata kadang telanjang, tetapi tak tersentuh.

Dalam kacamata Deleuze-Guattari, bencana tidak boleh langsung diamini sebagai murka alam. la bisa jadi konsekuensi dari cara kerja kapitalisme yang serakah dan tanpa moral. Hutan direduksi dari ruang hidup menjadi angka: izin, konsesi, hektare, laba.

Aliran hasrat modal dilepas sebebas-bebasnya, lalu ditata ulang oleh negara lewat hukum, stempel, dan narasi pembangunan. Negara yang seharusnya menjadi pengawas justru cosplay menjadi calo tiket, melicinkan pembalakan hutan agar tampak sah. Ketika alam diperlakukan sebagai tubuh tanpa organ dikeruk terus-menerus tanpa jeda kolaps ekologis tinggal menunggu waktu, dan banjir bandang adalah wajahnya paling telanjang.

Baca Juga: Aktivitas PT Mayawana Persada Picu Kekhawatiran Lingkungan

Di tengah kekisruan ini, Deleuze-Guattari menawar-kan satu jalan: schizoanalysis. Sebuah cara membaca persoalan dengan memetakan bagaimana hasrat, kuasa, dan kepentingan saling terhubung dan saling menunggangi. Schizoanalysis tajam membuka ilusi moral pembangunan dan menelanjangi kerja kekuasaan yang tersembunyi di balik izin dan regulasi.

Namun ia tidak menyediakan mekanisme operasional untuk menghentikan jejaring korporasi, birokrasi, dan oligarki yang bekerja sangat konkret di lapangan. Di tengah oligarki, hukum yang tumpul, dan nalar publik yang terbelenggu, analisis radikal berisiko berhenti sebagai wacana indah tanpa daya tekan nyata pada pengambilan keputusan politik dan ekonomi.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga nyawa schizoanalysis tetap tersambung dari analisis kritis menuju kebijakan yang berdampak? Di sinilah pendidikan, ruang publik, dan kebudayaan mesti berperan: menumbuhkan kesadaran kritis agar masyarakat tak lagi memuja kemajuan secara membabi buta.

Kita memerlukan warga yang terdidik untuk merawat hasrat bersama-hasrat menjaga kehidupan, alam, dan keadilan-bukan sekadar mencetak generasi yang patuh pada mesin pertumbuhan yang pelan-pelan memakan dirinya sendiri

Bagikan ke sosial media