OpiniTerbaru

Kesepian Karena Jomblo Lama Tingkatkan Risiko Kematian Dini

BORNEOBARU.ID – Fenomena jomblo sering dianggap sekadar status hubungan. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kesepian berkepanjangan yang sering dialami orang yang terlalu lama jomblo dapat berdampak pada kesehatan.

Kondisi ini bukan berarti semua orang lajang pasti tidak sehat. Akan tetapi, ketika kesendirian berubah menjadi kesepian kronis, tubuh dan pikiran bisa ikut terpengaruh.

Baca Juga: Sering Mengeluh Bisa Melemahkan Imun dan Kinerja Otak

Dengan kata lain, masalahnya bukan sekadar tidak punya pasangan, tetapi kurangnya koneksi sosial yang bermakna.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyebut kesepian sebagai tantangan kesehatan global. Laporan WHO tahun 2025 menyebutkan bahwa kesepian berkaitan dengan lebih dari 871.000 kematian setiap tahun di seluruh dunia.

Angka ini setara dengan sekitar 100 kematian setiap jam yang berkaitan dengan isolasi sosial dan kurangnya hubungan interpersonal. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental, produktivitas, hingga kualitas hidup seseorang.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa kesepian berkepanjangan meningkatkan risiko masalah kesehatan fisik. Orang yang sering merasa kesepian memiliki risiko kematian sekitar 14 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki hubungan sosial yang baik.

Bahkan beberapa studi menyebut dampaknya bisa sebanding dengan risiko kesehatan akibat merokok banyak batang rokok setiap hari. Kesepian juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung hingga 29 persen dan stroke hingga 32 persen.

Secara biologis, kondisi ini bisa dijelaskan melalui stres kronis. Ketika seseorang merasa kesepian dalam waktu lama, tubuh cenderung menghasilkan hormon stres seperti kortisol secara berlebihan.

Hormon tersebut dapat meningkatkan tekanan darah, memicu peradangan, dan melemahkan sistem imun. Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit.

Inilah alasan mengapa hubungan sosial sering disebut sebagai salah satu faktor penting bagi kesehatan jangka panjang.

Baca Juga: Indonesia Peringkat 2 Negara Paling Rentan Penipuan Digital

Namun, menjadi jomblo sebenarnya tidak selalu buruk. Banyak orang lajang tetap hidup sehat dan bahagia karena memiliki jaringan sosial yang kuat.

Mereka tetap memiliki teman, keluarga, atau komunitas yang memberi dukungan emosional. Artinya, status jomblo tidak otomatis membuat seseorang berisiko. Yang lebih berbahaya adalah kesepian yang tidak diatasi.

Jadi, jika seseorang sudah lama jomblo, tidak perlu langsung panik seolah umur tinggal sebentar. Yang penting adalah tetap menjaga hubungan sosial dan aktivitas yang positif.

Punya teman ngobrol, ikut komunitas, atau sekadar nongkrong dengan sahabat sudah cukup membantu kesehatan mental. Lagipula, jomblo yang sehat masih punya peluang panjang untuk bertemu jodoh.

Siapa tahu, pasangan hidup justru datang saat kita sudah berhenti terlalu serius memikirkan status.

Bagikan ke sosial media