Indonesia Kehilangan Hutan Tropis, Kalbar Sumbang Deforestasi Terbesar
BORNEOBARU.ID – Indonesia kini berada di posisi kritis terkait kehilangan hutan tropis. Menurut laporan terbaru, Indonesia masuk daftar negara dengan kehilangan hutan hujan tropis primer terluas di dunia. Kalimantan Barat sendiri menjadi salah satu provinsi penyumbang deforestasi terbesar.
Tekanan terhadap hutan alam terus meningkat baik dari konversi lahan untuk industri maupun penggunaan lahan lainnya.
Baca Juga: Pengangguran di Kalbar Tembus 148 Ribu
Menurut data Auriga Nusantara yang dikutip dalam laporan Kalbar Time, Kalimantan Barat mencatat deforestasi seluas 39.598 hektare pada 2024. Hal ini menjadikan provinsi Kalbar menduduki peringkat dua deforestasi hutan setelah Kalimantan Timur. Kaltim menduduki peringkat pertama dengan kehilangan hutan seluas 44.483 hektare.
Selain itu, akademisi dari Universitas Tanjungpura, Dr. Hari Prayoga, menyatakan bahwa dalam dua dekade terakhir, Kalbar telah kehilangan lebih dari 61 persen tutupan hutan.
Salah satu penyebab utama kerusakan hutan di Kalbar adalah ekspansi kebun kelapa sawit. Hari menyebut bahwa lebih dari 2 juta hektare lahan di Kalbar telah beralih menjadi kebun sawit, baik milik perusahaan maupun masyarakat lokal.
Selain sawit, aktivitas penebangan kayu, tambang (emas, bauksit, nikel), dan alih fungsi lahan turut mempercepat deforestasi di Kalbar.
Kerusakan hutan alam di Kalimantan Barat juga berdampak serius pada keanekaragaman hayati. Habitat spesies seperti orangutan, beruang madu, dan burung rangkong terancam akibat penggundulan hutan dan fragmentasi ekosistem.
Baca Juga: KMK STKIP Sintang Gelar Kaderisasi Kepemimpinan
Di sisi lain, kerusakan ekosistem alam bisa memperburuk konflik sosial dengan komunitas lokal dan masyarakat adat yang menggantungkan hidupnya pada hutan.
Dari sisi ekologis, deforestasi di Kalbar juga meningkatkan emisi karbon. Pembabatan hutan, termasuk lahan gambut, melepaskan karbon yang tersimpan dalam vegetasi dan tanah ke atmosfer.
Sebuah analisis spasial dari Greenpeace dan TheTreeMap memperlihatkan bahwa perusahaan pulp di Kalbar telah membabat puluhan ribu hektare hutan alam dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memperparah perubahan iklim lokal dan global.
Menanggapi hal ini, pemerintah bersama lembaga lingkungan perlu mendorong peningkatan pengawasan izin konsesi, transparansi pemegang izin, serta restorasi area kritis.
DLHK Kalbar, misalnya, memperkuat proyek Green Climate Fund (GCF) untuk pengelolaan hutan dan lahan berkelanjutan sebagai salah satu upaya mitigasi jangka panjang.


