NewsTerbaru

Harga Emas Antam Stagnan, Buyback Anjlok Rp80 Ribu per Gram

BORNEOBARU.ID – Pergerakan harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam kembali menjadi perhatian publik. Dalam perdagangan terbaru akhir Maret 2026, harga emas Antam tercatat tidak mengalami perubahan atau stagnan.

Sementara itu, harga jual kembali (buyback) justru mengalami penurunan signifikan hingga Rp80.000 per gram. Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar logam mulia yang sedang mengalami tekanan.

Baca Juga: Gempa Dangkal Magnitudo 5 Guncang Kayan Hilir, Sintang

Berdasarkan data resmi dari laman Logam Mulia, harga emas Antam tetap berada di level Rp2.843.000 per gram. Angka ini tidak berubah dibandingkan hari sebelumnya, menunjukkan bahwa sisi harga beli cenderung stabil dalam beberapa hari terakhir.

Sebaliknya, harga buyback, yaitu harga yang diterima masyarakat ketika menjual kembali emas ke Antam, turun tajam dari Rp2.560.000 menjadi Rp2.480.000 per gram.

Penurunan Rp80.000 ini cukup besar dan menjadi sinyal bahwa tekanan pasar lebih terasa pada sisi likuidasi aset dibandingkan akumulasi pembelian.

Fenomena ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara harga beli dan harga jual kembali. Secara umum, kondisi tersebut dapat merugikan investor jangka pendek, karena selisih (spread) antara harga beli dan jual semakin melebar.

Hal ini membuat potensi keuntungan menjadi lebih kecil, terutama bagi mereka yang ingin melakukan trading dalam waktu singkat.

Baca Juga: Pemerintah Batasi Akses Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun

Dari sisi global, stagnasi harga emas domestik dipengaruhi oleh pergerakan harga emas dunia yang cenderung tertahan.

Penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi turut menekan harga emas, sehingga pergerakan harga menjadi terbatas atau sideways.

Meski demikian, emas masih dianggap sebagai instrumen safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Bagi investor jangka panjang, kondisi penurunan buyback ini justru dapat dilihat sebagai fase koreksi pasar yang wajar, bukan sinyal pelemahan permanen.

Oleh karena itu, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan tujuan jangka waktu dan strategi keuangan masing-masing individu.

Bagikan ke sosial media