OpiniTerbaru

Harga dari Sebuah Pertumbuhan Adalah Kesepian

BORNEOBARU.ID – Seorang yang sedang berproses mengembangkan diri sering kali tidak hanya berhadapan dengan tantangan eksternal, tetapi juga dengan kesepian yang tumbuh di dalam dirinya. Ketika ia memilih fokus belajar, membangun karier, atau memperbaiki kualitas diri, lingkaran sosialnya bisa menyempit dan digantikan oleh perasaan kesepian.

Waktu untuk pergaulan berkurang, percakapan menjadi tidak lagi sefrekuensi dengan teman lama, dan tidak semua orang memahami arah perjuangannya.

Baca Juga: Indonesia, Juara Dunia dalam Cinta Tidur

Fenomena ini bukan sekadar pengalaman personal, tetapi bagian dari realitas sosial modern. Laporan global dari WHO menyebutkan bahwa kesepian telah menjadi isu kesehatan masyarakat yang signifikan dan meningkat. Situasi ini lebih banyak dirasakan oleh individu usia produktif yang berada dalam fase transisi hidup.

Secara psikologis, kesepian dalam proses pengembangan diri sering muncul karena adanya jarak antara siapa dirinya sekarang dan siapa yang ingin ia capai. Proses pertumbuhan menuntut refleksi, disiplin, dan terkadang pengorbanan relasi yang tidak lagi sejalan.

Penelitian Cacioppo & Cacioppo (2018) dalam bidang neuroscience menunjukkan bahwa kesepian memengaruhi sistem saraf dan meningkatkan sensitivitas terhadap ancaman sosial.

Seseorang yang merasa sendirian saat berproses bisa menjadi lebih mudah cemas atau overthinking. Artinya, kesepian bukan hanya perasaan emosional, tetapi juga reaksi biologis yang nyata.

Dalam konteks sosial, masyarakat modern justru memperparah paradoks ini. Media sosial menciptakan ilusi keterhubungan, tetapi banyak studi menunjukkan bahwa interaksi digital tidak selalu menggantikan kedekatan emosional yang autentik.

Survei Cigna U.S. Loneliness Index (2023) menemukan bahwa lebih dari separuh responden usia dewasa muda merasa kesepian meskipun aktif secara sosial. Ketika mereka memiliki aktivitas sosial yang tinggi dan rutin berinteraksi dengan orang lain, mereka tetap merasa terisolasi.

Temuan ini memperlihatkan bahwa kesepian tidak selalu berkaitan dengan kurangnya jumlah relasi, melainkan dengan kualitas keterhubungan emosional.

Dari sisi ekonomi dan karier, fase pengembangan diri sering menuntut keputusan yang membuat seseorang berbeda dari lingkungan sekitarnya. Fase ini menuntut keberanian untuk mengambil risiko usaha, pindah kota, melanjutkan studi, atau memulai karier dari nol.

Baca Juga: Menkes Imbau Masyarakat Waspada Ancaman Virus Nipah

Penelitian yang dipublikasikan dalam Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology (2024) menunjukkan bahwa pengalaman kesepian di usia muda berkorelasi dengan tantangan dalam mobilitas sosial dan stabilitas pekerjaan di kemudian hari.

Ini menunjukkan bahwa kesepian dan ekonomi saling berkaitan. Kurangnya dukungan sosial dapat memengaruhi kepercayaan diri, jaringan profesional, hingga peluang karier.

Namun demikian, kesepian dalam proses pertumbuhan tidak selalu berarti kegagalan sosial. Dalam banyak kasus, ia adalah konsekuensi dari perubahan identitas dan arah hidup.

Erik Erikson dalam teori perkembangan psikososial menekankan bahwa fase dewasa awal memang berhadapan dengan konflik antara keintiman dan isolasi.

Seseorang yang sedang membangun dirinya mungkin sementara berada di ruang isolasi sebelum menemukan komunitas baru yang sejalan dengan nilai dan visinya.

Dengan demikian, kesepian saat berproses bisa menjadi tanda transisi. Kesepian dapat menjadi sebuah ruang sunyi yang, jika disadari dan dikelola dengan sehat, menjadi fondasi kedewasaan emosional dan ketahanan hidup.

Bagikan ke sosial media