OpiniPendidikan

Budaya Instan dan Matinya Proses Berpikir

Oleh: Evensius Dimas Hendro Riberu, M.Pd
(Dosen Pendidikan Guru dan Sekolah Dasar, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persada Khatulistiwa, Sintang, Kalimantan Barat.)

Borneobaru.id – Ujian Akhir Semester telah usai. Kini tiba waktunya bagi dosen untuk menekuni pekerjaan yang sunyi namun paling menentukan, yakni mengoreksi lembar demi lembar jawaban mahasiswa. Di balik angka-angka nilai yang kelak tertera di sistem akademik, tersimpan potret cara berpikir, cara bernalar, dan cara berbahasa generasi muda yang sesungguhnya. Dari kertas-kertas ujian itulah, kualitas pendidikan sering kali “berbicara” paling jujur.

Dalam proses mengoreksi setiap lembar jawaban ujian, saya berusaha mendahulukan pikiran positif, melampaui kecurigaan atau asumsi tentang bagaimana jawaban-jawaban itu dihasilkan di tengah godaan instan kecerdasan buatan. Tidak semua jawaban yang rapi dan sistematis serta-merta lahir dari praktik yang keliru, sebagaimana tidak setiap kekeliruan mencerminkan kemalasan atau ketidakjujuran. Sebagai dosen, saya memilih membaca jawaban mahasiswa sebagai upaya memahami cara berpikir mereka, bukan semata-mata sebagai objek penilaian yang harus dicurigai. Sikap ini penting agar ruang akademik tetap menjadi ruang pembelajaran, bukan ruang ketakutan, sekaligus menegaskan bahwa pendidikan bertumpu pada kepercayaan yang disertai tanggung jawab, bukan pada pengawasan yang berlebihan.

Perkembangan teknologi digital, mulai dari macam-macam bentuk media sosial, mesin peramban ternama “Mbah Google” hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelegence) seperti ChatGPT, Gemini, dkk tidak dapat kita mungkiri telah mengubah relasi manusia dengan ilmu pengetahuan. Informasi hadir secara cepat dan berlimpah. Jawaban tersedia tanpa harus melewati proses membaca yang tekun, diskusi yang mendalam, atau perenungan yang memadai. Dalam konteks pendidikan tinggi, kemudahan ini justru melahirkan paradoks: mahasiswa semakin terbiasa pada hasil, tetapi semakin menjauh dari proses.

Contoh lain yang bisa cukup gamblang menerangkan tentang betapa sangat bergantungnya individu-individu ini dengan hasil instan adalah saat proses berdikusi di dalam kelas. Mahasiswa cenderung sigap menjawab saat diberi pertanyaan, akan tetapi kembali gagap memberi penjelasan lebih lanjut ketika diminta memperluas argumen atau mempertanggungjawabkan pendapatnya, mereka justru terdiam dan gelisah berusaha untuk kembali mengakses “jawaban” dari smartphone. Sebagai pengajar, situasi semacam ini bukan lagi kejadian sporadis, melainkan pola yang berulang. Fenomena tersebut menandai persoalan yang lebih mendasar: budaya instan yang perlahan menggerus proses berpikir.

Masifnya penggunaan kecerdasan buatan dalam dunia akademik menambah lapisan persoalan baru. Berbagai aplikasi berbasis AI kini mampu merangkum bacaan, menyusun jawaban, bahkan menulis esai dengan struktur yang tampak rapi. Bagi mahasiswa, teknologi ini sering dipandang sebagai solusi praktis atas keterbatasan waktu dan tuntutan akademik yang menumpuk. Namun, di balik efisiensi tersebut, tersimpan risiko yang kerap luput disadari: tereduksinya proses berpikir menjadi sekadar aktivitas menyalin hasil.

Otomatisasi AI, ketika digunakan tanpa kesadaran moral dan daya kritis, berpotensi akan mengaburkan batas antara bantuan dan penggantian. Mahasiswa mungkin tetap mengumpulkan tugas tepat waktu, mudah dalam menjawab tiap kuis dari dosen, bahkan mampu untuk menyelesaikan soal-soal rumit dalam ujian, akan tetapi mereka jelas kehilangan kesempatan untuk berproses. Mereka akan melewatkan aktifitas membaca secara seksama, mengolah gagasan, lalu merumuskan argumen dengan bahasanya sendiri. Ketika teknologi mengambil alih kerja kognitif, ruang refleksi pun menyempit, dan pembelajaran berubah menjadi rutinitas administratif belaka.

Lebih jauh, persoalan ini tidak hanya menyangkut kejujuran akademik, tetapi juga kedangkalan berpikir. Jawaban yang dihasilkan AI kerap terdengar meyakinkan, namun bersifat generik dan dangkal. Tanpa kemampuan menilai, mengkritisi, dan memverifikasi, mahasiswa berisiko menerima informasi sebagai kebenaran final. Di sinilah bahaya utama otomatisasi: bukan pada teknologinya, melainkan pada sikap pasif penggunanya.

Dalam konteks pendidikan tinggi, kecerdasan buatan seharusnya diposisikan sebagai alat bantu intelektual, bukan jalan pintas akademik. AI dapat menjadi mitra belajar—membantu memetakan ide, memperkaya sudut pandang, atau menstimulasi pertanyaan baru—asal digunakan dengan kesadaran etis dan tanggung jawab berpikir. Tanpa itu, teknologi justru menjauhkan mahasiswa dari tujuan utama pendidikan: pembentukan nalar yang kritis dan otonom.

Situasi ini menuntut refleksi bersama. Dosen tidak cukup hanya melarang penggunaan AI, sementara mahasiswa tidak bisa dibiarkan menavigasi teknologi tanpa panduan. Pendidikan perlu merumuskan ulang pendekatan pembelajaran yang menekankan proses, bukan sekadar produk. Tugas-tugas akademik harus dirancang untuk menuntut pemikiran personal, dialog, dan argumentasi—hal-hal yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.

Pada akhirnya, tantangan pendidikan di era otomatisasi bukanlah bagaimana menghindari teknologi, melainkan bagaimana menggunakannya secara bermartabat. Tanpa kesadaran moral dan daya kritis, kecerdasan buatan hanya akan mempercepat lahirnya generasi yang efisien secara teknis, tetapi rapuh secara intelektual. Pendidikan, pada titik ini, dituntut untuk kembali menegaskan fungsinya: menjaga agar proses berpikir tetap hidup di tengah dunia yang serba instan.

Bagikan ke sosial media