Indonesia, Juara Dunia dalam Cinta Tidur
BORNEOBARU.ID – Survei global terbaru mengungkap fakta menarik tentang kebiasaan tidur masyarakat di berbagai negara. Menurut laporan IKEA Sleep Report 2025, tidur tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan biologis, tetapi juga sebagai salah satu kenikmatan terbesar dalam hidup bagi sebagian besar orang di dunia.
Secara global, sekitar 70 persen responden setuju bahwa tidur adalah kenikmatan hidup. Lebih dari setengah responden bahkan memilih renahan daripada melakukan aktivitas sosial lainnya.
Baca Juga: Menkes Imbau Masyarakat Waspada Ancaman Virus Nipah
Menariknya, Indonesia menduduki peringkat pertama di dunia sebagai negara dengan proporsi tertinggi responden yang mengatakan bahwa mereka sangat menikmatinya. Data survei menunjukkan bahwa 73% warga Indonesia menganggap tidur sebagai aktivitas yang penting dan menyenangkan, angka tertinggi di antara 57 negara yang disurvei.
Selain Indonesia, terdapat beberapa negara yang memiliki persentase yang tak kalah besar. Di belakang Indonesia, ada negara Thailand (71%), Filipina (68%), Singapura (66%), dan Mesir (65%).
Laporan global ini tidak hanya melihat bagaimana orang menilai tidur, tetapi juga membandingkan sikap dengan perilaku sosial semacam aktivitas luar rumah. Hasilnya menunjukkan bahwa banyak orang cenderung lebih memilih rebahan daripada harus menghadiri acara atau kegiatan sosial di luar rumah.
Para ahli menilai bahwa fenomena ini bukan sekadar soal kemalasan, melainkan pergeseran budaya dan gaya hidup modern. Tidur kini menjadi momen pemulihan fisik dan mental setelah jadwal kegiatan yang padat, tekanan pekerjaan, serta penggunaan gadget di malam hari.
Baca Juga: Rebung Diakui Ilmuwan Inggris sebagai Pangan Sehat
Meski banyak orang Indonesia menyukai rebahan, kenyataannya durasi istirahat yang diperoleh seringkali kurang dari ideal. Menurut laporan lain, durasinya rata-rata orang Indonesia hanya sekitar 6 jam 36 menit per malam. Durasi ini masih jauh di bawah rekomendasi standar internasional yaitu 7–8 jam per malam untuk orang dewasa.
Fenomena ini mencerminkan adanya paradoks tidur. Meskipun banyak orang sangat menghargai kegiatan tersebut, mereka sebenarnya tidak mendapatkan cukup waktu istirahat karena tuntutan hidup modern. Misalnya, jam kerja panjang, stres, dan gaya hidup aktif yang mengurangi waktu istirahat.
Perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan kecenderungan serupa di Asia Tenggara, namun pada variasi durasi. Misalnya, di negara-negara seperti Jepang, durasi tidur rata-rata bahkan lebih rendah lagi, sekitar 6 jam 10 menit per malam. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena kurang tidur adalah masalah regional yang lebih luas.
Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa tidur yang cukup dan berkualitas penting untuk kesehatan fisik dan mental. Tidur yang kurang tidak hanya membuat seseorang merasa lelah, tetapi juga terkait dengan risiko kesehatan seperti gangguan metabolisme, mood, dan daya konsentrasi.


