OpiniTerbaru

Mengapa Lahan Gambut Mudah Terbakar

BORNEOBARU.ID – Lahan gambut di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah sejumlah kebakaran terjadi di berbagai provinsi seperti Jambi dan Kalimantan Barat. Tercatat ada ratusan hektare lahan terbakar dan sulit dipadamkan. Data satelit pemantauan menunjukkan puluhan titik panas di wilayah gambut yang mengalami kondisi kering.

Apalagi ketika muka air tanah turun drastis selama musim kemarau. Kondisi ini membuat vegetasi dan lapisan gambut menjadi sangat rentan terhadap pembakaran.

Baca Juga: Banjir Kalbar: Masalah Lama yang Belum Tuntas

Secara ilmiah, gambut adalah tanah organik yang terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan selama ribuan tahun. Karena kandungan bahan organiknya sangat tinggi, lahan ini menyimpan banyak air ketika tingkat kelembapannya tinggi.

Namun ketika gambut mengering akibat cuaca panas atau drainase buatan, struktur organik itu berubah menjadi biomassa. Kondisi tersebut menyebabkan struktur organik sangat mudah terbakar, sehingga api dapat menyala dan merambat cepat.

Kondisi ini telah diperkuat oleh studi ilmiah tentang properti hidrologi gambut dan risiko kebakaran.

Kebakaran pada lahan sering kali tidak tampak di permukaan saja. Api dapat menyala dan kembali muncul di bawah tanah. Lapisan lahan yang dalam memungkinkan pembakaran berlangsung secara lambat dan tersembunyi.

Faktor ini membuat pemadaman menjadi jauh lebih sulit dibanding api di lahan mineral biasa, yang biasanya hanya terbakar di permukaan. Upaya pemadaman sering kali membutuhkan pelembapan menyeluruh di seluruh lapisan, bukan hanya pemadaman api permukaan.

Baca Juga: Banjir Melanda Kalimantan Barat, Ribuan Warga Terdampak di Enam Kabupaten

Selain kondisi alam, aktivitas manusia juga memperburuk kerentanan lahan gambut. Drainase untuk pertanian atau perkebunan membuat muka air tanah turun, sehingga gambut yang biasanya basah menjadi kering.

Selain itu, praktik membuka lahan dengan cara membakar meningkatkan kemungkinan api menyala, terutama pada musim kering. Faktor-faktor ini menjadi kombinasi yang sangat berbahaya jika tidak dikendalikan.

Perubahan iklim juga memainkan peran penting. Penelitian internasional terbaru menunjukkan bahwa kekeringan yang berkepanjangan, seperti yang dipicu oleh fenomena El Niño, meningkatkan suhu permukaan tanah dan mengurangi curah hujan.

Ini membuat kondisi lahan gambut kian kering dan mudah terbakar. Sebaliknya, saat fase La Niña membawa kondisi lebih lembap, kejadian kebakaran jauh lebih rendah. Pola perubahan iklim ini menunjukkan lahan gambut akan terus mengalami risiko tinggi jika pemanasan global tidak dikendalikan.

Bagikan ke sosial media