OpiniTerbaru

Banjir Kalbar: Masalah Lama yang Belum Tuntas

BORNEOBARU.ID – Beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di Kalimantan Barat (Kalbar) kembali dilanda banjir. Selain hujan lebat, sejumlah penyebab lain telah diidentifikasi sebagai pemicu banjir yang semakin sering dan parah di Kalbar.

Baca Juga: Banjir Melanda Kalimantan Barat, Ribuan Warga Terdampak di Enam Kabupaten

Pertama, kondisi drainase dan infrastruktur air yang tidak memadai memperburuk banjir. Menurut Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Kalbar, jaringan sungai, parit, dan saluran drainase bekum berfungsi maksimal saat debit air meningkat. Sehingga air tidak cepat mengalir dari permukiman. Hal ini membuat daerah yang seharusnya bisa menahan limpasan air justru cepat tergenang.

Selain itu, otoritas penanggulangan bencana setempat menilai bahwa faktor lingkungan menjadi penyebab utama banjir, sedangkan curah hujan hanya pemicu. Faktor tersebut meliputi degradasi kawasan resapan air dan area lindung yang semakin berkurang akibat tekanan pembangunan.

Konversi lahan secara besar-besaran, terutama di daerah hulu dan DAS (Daerah Aliran Sungai), dinilai mempercepat aliran air di permukaan. Aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan, permukiman, dan industri mengurangi area penyerapan air hujan secara alami. Sehingga air cepat mengalir ke sungai dan menyebabkan banjir.

Baca Juga: UMP 2026 Naik, Berapa Upah Minimum Pekerja di Kalimantan?

Di Mempawah, misalnya, konversi hutan alam menjadi lahan non-hutan diperkirakan signifikan meningkatkan risiko banjir setempat.

Tak kalah penting, karakter topografi lokal juga memperparah situasi di beberapa desa. Di sejumlah kawasan cekungan atau daerah rendah, air cenderung berkumpul lebih cepat dan lama surut, bahkan ketika hujan tidak terlalu lebat. Kondisi ini diperparah oleh pendangkalan sungai setempat yang membuat aliran air terhambat.

BPBD menyatakan bahwa solusi jangka panjang harus mencakup perbaikan drainase, rehabilitasi sungai, penguatan fungsi resapan air, dan penataan tata ruang yang lebih baik. Tanpa langkah-langkah ini, banjir di Kalbar akan tetap berulang setiap musim hujan meskipun curah hujan tidak ekstrem.

Bagikan ke sosial media