OpiniTerbaru

Cinta Bisa Menunggu, Ekonomi Tidak: Alasan Anak Muda Menunda Pernikahan

BORNEOBARU.ID – Tren menunda pernikahan dan tidak menikah bukan lagi isu semata, namun telah menunjukan situasi yang nyata di kalangan anak muda. Data BPS menunjukkan persentase pemuda yang berstatus belum kawin masih tinggi dan dalam beberapa tahun terakhir ada kecenderungan menunda pernikahan.

Fenomena ini bukan sekadar soal cinta yang menunggu, melainkan keputusan rasional yang dipengaruhi kondisi sosial-ekonomi.

Baca Juga: CINCIN TUNANG, SEBUAH JANJI YANG TAK PERNAH SELESAI, TERSISA MENJADI LUKA DI HATI

Salah satu faktor utamanya ialah kekhawatiran finansial. Survei dan laporan populer serta penelitian menunjukkan banyak milenial dan Gen Z menunda menikah karena merasa belum mapan secara ekonomi.

Biaya pernikahan, kebutuhan rumah tangga, dan prospek hidup pasca nikah membuat mereka menimbang ulang prioritas.

Ketika ekonomi tak pasti, ketakutan “miskin setelah menikah” menjadi lebih menekan daripada stigma belum menikah.

Kekhawatiran ini bukan tidak memiliki dasar yang kuat. Lapangan pekerjaan yang masih sebatas janji dan belum sepenuhnya nyaman dan biaya hidup yang tinggi membuat kesiapan finansial sulit tercapai.

Laporan World Bank dan ILO menunjukkan bahwa kurangnya kompetensitas anak muda dan akses pekerjaan yang sulit memperbesar ketidakastian ekonomi.

Dalam konteks tersebut, menunda menikah sering dipandang sebagai strategi bertahan.

Situasi ini menimbulkan dampak positif dan dampak negatif.

Secara positif, generasi muda jadi lebih realistis. Anak muda lebih fokus pada pendidikan, karier, tabungan, dan kemandirian. Namun secara sosial, ada tekanan demografis dan pergulatan batin.

Baca Juga: Indonesia Kehilangan Hutan Tropis, Kalbar Sumbang Deforestasi Terbesar

Keluarga dan komunitas kadang masih menilai belum menikah sebagai “kegagalan” padahal banyak yang memilih menunda demi stabilitas finansial dan kualitas rumah tangga di masa depan. Perubahan norma ini membutuhkan pemahaman, bukan penghakiman.

Ketakutan hidup miskin lebih besar dampaknya daripada ketakutan tidak menikah karena menikah berarti tanggung jawab finansial yang nyata.

Wajar saja anak muda menunda pernikahan karena kesempatan kerja layak atau jaringan sosial masih lemah.

Solusi terbaik bukan mendorong mereka menikah cepat, tetapi memperbaiki akses pekerjaan layak, meningkatkan literasi keuangan, dan menghadirkan kebijakan yang membantu biaya hidup keluarga muda.

Jika fondasi ekonomi kuat, keputusan menikah pun bisa diambil dengan tenang, tanpa rasa takut akan kesulitan finansial.

Bagikan ke sosial media